Minggu, 18 November 2012

Cara Menjadi Manusia Berkarakter



Cara Menjadi Manusia Yang Berkarakter
Pribadi Yang Berkarakter Tumbuh Pada Lingkungan Yang Berkarakter .
Membangun karakter (Character building) adalah proses mengukir, memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga ”berbentuk ” unik,menarik dan dapat dibedakan dengan orang lain. anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal.
Pemberitaan di berbagai media massa, begitu sering kita membaca, mendengar dan melihat di tayangan layar kaca bagaimana  manusia saling menyerang, menghujat dan “ memangsa “. Berbagai tindak kriminal, tindak kekerasan dan pelecehan  terjadi  di lingkungan keluarga maupun di lingkungan lain. Orang yang lebih muda sudah tidak dapat menunjukkan rasa hormatnya pada yang lebih tua, sebaliknya yang lebih tua juga telah kehilangan kasih sayang.Anak-anak muda lebih gandrung dan bangga pada budaya asing daripada budaya sendiri,  maka muncul pertanyaan di benak kita :      Apa yang terjadi dengan bangsa kita?"
Pertanyaan yang sama juga muncul ketika kita mengetahui berbagai tindak Korupsi-Kolusi-Nepotisme  di berbagai lini yang merugikan keuangan negara dalam hitungan yang tidak terbayangka .Apa yang didengar, dilihat dan dialami oleh kita tersebut mengacu kepada satu hal, yaitu karakter.

       Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia belum memasukkan kata karakter, yang ada adalah kata ‘watak’ yang diartikan sebagai: sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Dalam risalah ini, dipakai pengertian yang pertama, dalam arti bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang  berkarakter’ adalah orang punya kualitas moral (tertentu) yang positif. Dengan demikian, pendidikan membentuk karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk.

         Pendidikan dapat membentuk karakter, pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang mendorong  seseorang untuk mengembangkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini tumbuh dan berkembang dengan didasari oleh kesadaran, kepekaan dan sikap orang yang bersangkutan. Dengan demikian, karakter bersifat inside-out, dalam arti bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena adanya paksaan dari luar. Berdasarkan informasi dan bahkan pengalaman atau cerita dari  orang  Indonesia yang bepergian ke Singapura atau Jepang akan berperilaku tertib di jalan raya atau di tempat-tempat umum,atau membuang sampah tidak sembarangan karena aturan yang sangat tegas dan keras di sana. Namun, saat pulang kembali ke Indonesia, mereka  kembali pada kebiasaan lama saat di Indonesia,. Jadi, perilaku tertib di Singapura atau Jepang bukanlah karakter orang-orang yang bersangkutan. Dalam pendidikan karakter, mengetahui apa yang baik saja tidak cukup. Yang sangat penting adalah menanamkan kebaikan tersebut di hati dan mewujudkannya dalam tindakan, perbuatan dan/atau perilaku sebagaimana filofi “Nggahi Rawi Pahu”
Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan  dan lingkungan sosialisasi atau pendikan – nurture. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.

Keluarga tempat pendidikan Karakter yang Pertama dan Utama
Keluarga menjadi kelompok pertama (primary group) tempat meletakkan dasar kepribadian. Dalam keluarga terjadi proses “sosialisasi” yaitu proses pengintegrasian individu kedalam kelompok sebagai anggota kelompok yang memberikan landasan sebagai makhluk sosial. Di dalam keluarga itu telah terjadi proses pendidikan dalam arti proses “ pendewasaan “  dari idividu yang tidak berdaya kepada calon pribadi yang mengenal pengetahuan dasar, norma sosial, nilai-nilai dan etika pergaulan. Oleh karena itu keluarga ini juga merupakan “lembaga pendidikan “ bagi individu yang membawanya ke dalam suasana yang makin mandiri.       
        Dalam tulisan ini tinjauan mengenai konteks perkembangan anak difokuskan pada peran keluarga, terutama orang tua, sebagai perantara antara antara anak dan lingkungan budaya yang melingkupinya..Orangtua berperan dalam pengembangan kualitas pribadi anak, melalui cara-caranya mengasuh dan mendidik anak. Cara-cara orang tua mengasuh anak meliputi sejauh mana orangtua menjadikan dirinya sebagai panutan anak, hubungan-hubungan kognitif dan afektif antara orang tua dan anak, cara mengajar anak, serta cara mendisipinkan anak.
        Posisi orang tua sebagai perantara antara anak dan budaya tersebut dipilih, dengan pertimbangan bahwa anak terlahir didunia ini dapat diibaratkan sebagai seorang wisatawan  di negara yang belum dikenal.Walaupun mungkin saja anak mengadakan penjelajahan diwilayah sendiri, namun adanya orangtua yang berperan sebagai pemandu wisata  bagi anak dalam menjelajahi kehidupan didunia, akan memungkinkan penjelajahan anak yang terarah dan efisien.Adanya pemandu berarti anak tidak dibiarkan mencoba-coba sendiri tanpa informasi pengantar, sehingga anak dapat terhindar terperosok ke dalam jurang yang berbahaya. Posisi orang tua sebagai pemandu anak tersebut berarti  orang tua bertindak sebagai ”penerjemah ” pengaruh budaya, memberikan rambu-rambu, yang memungkinkan anak  dapat membuat pilihan-pilihan serta keputusan sendiri dalam menentukan jalan hidupnya..
       Selain itu sebagai lingkungan yang paling akrab dengan kehidupan anak, kelarga memiliki peran yang sangat penting dan srategis bagi penyadaran, penanaman, dan pengembangan nilai. Nilai dapat berkembang dan terpelihara .Kadar internalisassi nilai pada diri anak cenderung lebih melekat  jika dibandingkan misalnya dengan penanaman nilai di sekolah. Perekat utamanya tidak lain adalah perasaan mengayomi pada orang tua dengan sifat diayomi pada sang anak.
       Peranan keluarga dalam meningkatkan kemampuan olah pikir anak tidak dapat dipungkiri. Kemampuan dasar berpikir anak juga banyak terbentuk dalam keluarga. Apalagi kalau orangtua memiliki perhatian yang cukup besar terhadap hal tersebut. Disisi lain keharmonisan dalam keluarga sebagaimana dipercaya oleh para environmentalism juga mempunyai kontribusi terhadap bagaimana perilaku anak.Hal ini pernah dibuktikan oleh Fagan ( 1995 ) bahwa anak-anak yang melakukankenakalan dan pelanggaran hukum dan norma adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis, orangtua tunggal atau orang tua yang menikah kembali (step parent family).
        Dalam pandangan ahli social learning  apa yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya merupakan  proses yang di adopsi oleh si anak melalui proses social-modelling. Bagaimana cara ibu mengasuh, apakah dengan penuh kelembutan dan kasih sayang atau apakah dengan kasar dan amarah serta penolakan, akan membentuk perilaku anak. Seorang anak mempunyai perilaku baik atau buruk didasarkan atas cara pengasuhan yang diberikan ibunya. Anak-anak yang diasuh dengan cara diterima( acceptance) akan menjadi anak yang tumbuh dan berkembang lebih baik dibandingkan  dengan anak yang diasuh dengan cara ditolak (rejection). Intinya adalah keluarga  memiliki peran yang sangat penting dan strategis bagi perkembangan anak.

          Membangun karakter (Character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga ”berbentuk ” unik,menarik dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain.Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya ( termasuk dengan yang belum berkarakter ).

Kegagalan keluarga dalam melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, akan mempersulit institusi-institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) dalam upaya memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak-anak mereka dalam keluarga.

Sebagai Kesimpulan bahwa karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pemben-tukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah - nature) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan – nurture). Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Keluarga melalui peran orangtua, berperan dalam perkembangan kualitas pribadi  anak melalui cara pengasuhan dan mendidik anak. Keluarga ( orang tua ) dalam mendidik anak perlu memperhitungkan adanya perubahan kondisi ling-kungan  budaya. Penanaman nilai-nilai moral kepada anak-anak akan menentukan kualitas   kepribadian mereka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar